Sabtu, 30 Agustus 2014

KAYA MISKIN itu ORANG TUA

Bukannya hidup aku berkecukupan atau sok kaya. Gak peduli dengan semua itu, toh itu hanya harta yang bukan milikku. Orang tuaku juga butuh perjuangan untuk menghidupi ketiga anaknya. Apa yang mau disombongkan harta adalah titipan yang dimanfaatkan untuk menjalani hidup menjadi leboh baik dan berkah. Sekaya-kayanya orang tua, suatu saat sang anaknya akan berpikir bagaimana dia kelak akan hidup tanpa orang tua. Setiap manusia memiliki fase hidup yang nyaris sama, bertahan hidup adalah salah satunya.

Islam sebagai agama yang kuyakini, mengajarkan untuk saling menolong sesama manusia, dan tidak dianjurkan untuk meminta atau bahkan mencuri. Aku hidup ditengah keluarga yang berkecukupan, yang mana orang tuaku sangat bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Mungkin aku tidak terlalu memikirakan keuangan & materi untuk biaya hidup serta sekolahku, namun apa mungkin aku tega terus-terusan menjadi anak manja & suka menadah uang jajan. Berawal dari melihat orang-orang yang hidup dibawahku, menyadarkan aku, bawasannya kelak orang tuaku tidak selalu bersamaku dan tidak terus memfasilitasiku. Suatu saat aku harus bekerja dan memiliki penghasilan untuk hidupku.

Memberanikan memulai usaha yang pasti, meski butuh waktu lama untuk mengumpulkan laba yang akan menjadi modal tabunganku. Berniat untuk menambah uang jajan, aku memulai usaha untuk berjualan pulsa. Banyak yang bilang, usaha pulsa menghabiskan waktu, dan banyak pelanggan yang hutang bahkan lupa untuk membayar uang pulsa. Selama aku berjualan pulsa, aku pun mulai merasakan hal itu. Penuh kesabaran menunggu para pelanggan yang berlagak kaya namun miskin, untuk membayar semua hutangnya. Aku mungkin terlalu kejam dan egois, namun yang perlu diketahui adalah caraku untuk mencari tambahan uang jajanku melalui jual pulsa. Aku bukan seorang dermawan, aku berusaha hidup adil, untuk tidak meminta-minta atau bahkan mencuri. Dimataku nasib kita sebagai seorang anak adalah sama, adapun sebagai seorang sahabat, aku lebih menyukai kalian yang benar-benar miskin menceritakan keadaan kalian, daripada kalian yang berlagak mampu(kaya) namun penipu. 

Jumat, 29 Agustus 2014

Tanpa SADAR & FIRASAT apapun

Tanggal 29 Agustus tahun ini, biasa aja nganggur rencananya. Lagi males, kondisi tubuh yang rutin tiap bulan harus dihadapi. Pagi ini teman aku ngajak untuk ditemani ke kampus perihal registrasi kuliah. Sudah bisa teman terkadang ingin ditemani, itu posisi aku untuk menemaninyake kampus. Semua berjalan seperti biasa, tanpa sadar dan firasat apapun, tak sengaja senyum ku melebar, berdiri tepat disampingku sang pujaanku. Begitu terasa bahagia sejenak, melihatnya dan berbincang dengannya yang akhirnya bisa bersanding duduk bersama. Temanku paham aku sangat bahagia dengan snyum lebar penuh arti.
Berakhir sudah urusan registrasi, aku dan temanku berniat untuk berbinncang sejenak lagi, namun sang pujaanku harus kembali balik ke kos. setelah dirasa cukup berbincang, aku dan temanku memutuskan untuk kembali ke kosan masing-masing. Aku pun balik diantar temanku yang lain, selama perjalanan ke kos, bahagia masih terasa dan bersyukur (Alhamdulillah). Semangat lagi untuk melanjutakan aktifitas, yaitu makan. Seperti biasa makan tinggal ambil sesuai pesanan di warung (sebelumnya sms). Menelusuri jalan menuju warung, tanpa sadar dan firasat apapun, bertemuku untuk kedua kalinya saat itu dengan pujaanku. Dia melihatku sembari tersenyum, begitu pula aku. Aku tak sampai melihat detail pujaanku, tatapan tertuju pada siapa yang ada dibelakangnya alias yang dibonceng, tak lain dan tak bukan dia adalah pacar pujaanku. Senyumku untuk melihat paras pujaanku, namun hati berekspresi lain, terbukti hingga ku menulis tulisan ini, betapa galaunya.

Jumat, 08 Agustus 2014

RAHASIA BUKAN LAGI RAHASIA

Banyak hal yang telah kuceritakan kepada para sahabat atau teman, namun ini bukan rahasia lagi sebenarnya. Kusebut rahasia karena sang objek tak pernah tahu. Pada awalnya begitu mencemaskan, namun sejauh ini kecemasan itu tetap membuatku tenang dihadapanya. Jujur melihat sosoknya sangat membuatku selalu tersenyum lebar, aku berfikir dia begitu sabar, dia juga tergolong sosok yang setia mendengarkan cerita teman atau sahabatnya. Ya ... itulah yang membuatku selalu tertuju padanya, setelah dipertemukan kembali pada satu semester, cukup membuatku bisa dekat dengannya. Penilaian fisik tak terlepas dari pengamatanku, satu lagi dia selalu untuk tidak tahu mengenai sesuatu hal, tapi sebenarnya dia selalu mengerti. Sampai saat ini aku perlahan mengenalnya, sosok yang penuh kejutan untuk membuatku selalu ingin tahu.

Entahlah ini sekali lagi bukan sudah rahasia, namun masih membuatnya penasaran. Maaf yang saat ini kupuja, teman atau sahabatku. Selalu membicarakanmu, tanpa sepengetahuanmu, adalah hal yang selalu membuatku tersenyum lebar ketika kamu yang selalu kubahas. Sampai kapan ini akan berujung?, itu bukan lagi aku yang akan meneruskan. Kalo boleh, biar saja Takdir yang menjawab, ku yakin apa yang telah terulis dalam Lauhul Mahfudz tentang takdirku yang berakhir Indah. Terima kasih kepada Tuhan yang menciptaka sosok, yang kuanggap Indah.