Terharu membaca sebuah komentar di media sosial dari saudara kita yang berasal dari negeri timur. Ini hanya sebuah cerita yang begitu dekat dan singkat. Hanya sebuah komentar yang tak habis pikir akan muncul. Komentar yangrh berasal dari lubuk hati yang terdalam, tanpa kamiflase apapun. Temanku dari timur sangat merindukan teman-teman pertamanya di tanah Jawa. Tak disangka berpisah dengannya, tak tahu kabarnya, bahkan tak menyapa, aku hanya berharap, dia kan baik-baik saja. Tak begitu tragis keadaannya, namun membuat tangis yang manis.Temanku, aku cukup bahagia kau masih berdampingan dengan teman-temanmu yang kau anggap teman.
Aku belum bisa menjadi teman yang baik. Entahlah, aku bahkan tak bisa mengahdapi mu. Mungkin memang latar belakang yang jauh beda, membuatku belum bisa dekat denganmu. Bukan pilih kasih teman, aku tak punya niat untuk rasis. Aku ingin sekali bisa bergabung dengan kalian. Melihat kalian yang diam, membuatku membayangkan posisi menjadi kalian. Mungkin kalian juga masih sulit beradaptasi, mungkin juga ini cara kita saling menjaga. Teman kau kaum minor, "bisakah kalian yang memulai beradaptasi?" pertanyaan itu mungkin masih telalu tragis untuk kalian. Ini berarti membutuhkan komunikasi dua arah. Teman kau punya cita-cita yang tinggi, ku harap doaku menyertaimu menyelesaikan tuntutan untuk masa depanmu (VM)